Kepemimpinan Orang-orang Kalah !!! ( Prof. Rhenald Kasali PhD )
JOKO Widodo yang maju dalam pencalonan gubernur DKI Jakarta mengatakan
dirinya tak punya uang. Maka, ia pun menjadi bingung saat dituding telah
menjalankan politik uang.
Pertarungan antara kubu Joko
Widodo-Basuki T Purnama dan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli masih terus
berlangsung, seperti halnya yang dihadapi hampir semua kontestan pilkada
dari Aceh hingga Papua. Dalam banyak kesempatan selalu ditemui babak
selanjutnya.
Meskipun demikian, reaksi yang muncul dari setiap
pihak bisa berbeda. Ada yang menunjukkan bahwa mereka memiliki sikap
pemenang yang berorientasi ke depan dan introspektif terhadap masa lalu,
ada yang bertarung dengan mentalitas pecundang yang berorientasi ke
masa lalu dan menyalahkan orang lain.
Kalau diperhatikan,
hampir semua politisi yang bertarung pada era demokrasi ini tidak siap
menyambut kemenangan. Yang menang gagal menjalankan apa yang dijanjikan
dan bila kalah selalu menyalahkan orang lain. Kalau mencari uang gagah
berani, tetapi bila tertangkap melakukan kejahatan enggan bertanggung
jawab.
Belajar akui kesalahan !!!
Lima belas tahun
yang lalu saat masih bersekolah di Amerika Serikat, anak saya pulang ke
rumah dengan muka terluka. Begitu bertemu ibunya, ia menangis sambil
memeluk. ”It’s OK mommy, it was my mistake. I was wrong.” Saat kembali
ke Indonesia ia suka protes. ”Mengapa teman-teman aku suka tak mengakui
kesalahan? Mereka pun selalu mengulanginya.”
Sebagai orangtua,
saya tentu kesulitan menjawab. Akan tetapi, saya berpikir, anak-anak
belajar dari orangtua dan orangtua belajar dari para pecundang yang
tidak siap menerima kekalahan.
Jawaban itu akhirnya saya
peroleh dari Denis Waitley (1986) yang menulis ”Psychology of Winning”
hasil studi Kassam, Morewedge, Gilbert, dan Wilson (Psychological
Science, April 2011). Saya jadi mengerti mengapa Presiden Amerika
Serikat yang kalah dengan gagah berani mengucapkan selamat kepada
pemenang hanya sesaat setelah hasil polling mengumumkan kekalahannya.
Saya juga jadi mengerti, mengapa anak-anak di dunia Barat lebih sering
mengatakan ”saya yang salah”, sementara di sini semakin banyak orang
yang mengatakan ”bukan salah saya”.
Dari berbagai literatur
diketahui bahwa di negara-negara demokratis, selain komunikasi yang
asertif, pada anak-anak selalu ditanamkan sikap-sikap pemenang. Seorang
pemenang bukan otomatis memenangi persaingan, melainkan yang menjaga
kehormatannya.
Orang kalah !!!
Seingat saya, di
sekolah anak saya dulu, guru selalu mengingatkan bahwa pada akhirnya
orang yang kalah bukanlah yang terpenjarakan atau tergusur dari
kursinya, melainkan orang yang melemparkan kesalahannya kepada pihak
lain.
Ketika seorang pemenang mencari cara ”bagaimana
menyelesaikan” masalahnya, orang- orang yang kalah ”sibuk mencari
alasan”. Tak banyak pemimpin yang menyadari bahwa mereka telah menjadi
”bagian dari masalah” dan bukan solusi.
Seorang pemenang selalu
menghormati orang-orang yang lebih hebat dan mau belajar. Ia dihormati
bukan karena menang atau dicurangi, melainkan karena menghormati
kemenangan, menjaga kehormatan.
Sementara orang yang
mengabaikan kehormatannya selalu merendahkan keberhasilan orang lain dan
merasa lebih hebat dari siapa pun juga. Wajar bila mereka gemar
mencegah agar orang lain berhasil. Mereka menggunakan argumentasi omong
kosong dengan nada keras. Berbeda dengan pemenang yang argumentasinya
kuat, tetapi disampaikan dengan lembut dan santun.
Mau ke mana Indonesia kalau para politisi dan pemimpinnya tak punya karakter pemenang ? Apa jadinya kalau generasi muda tidak dipersiapkan untuk menjadi pemenang ?
Bangsa yang kalah akan selalu curiga dan memusuhi bangsa-bangsa yang
lebih hebat dan beranggapan bahwa ada peran faktor keberuntungan. Padahal, pemenang melihat keberuntungan sebagai buah dari kerja keras dan disiplin. Bangsa yang kalah mudah tersulut emosi, tetapi ragu-ragu bertindak.
Rhenald kasali Guru Besar FEUI; Pendiri Rumah Perubahan