“Jangan berharap terlalu tinggi, sebab kecewa akan menghempaskanmu dari ketinggian yang sama” (Anonim)
Dahlan Iskan, tiba-tiba menjadi menteri idaman karena perilakunya yang
nyentrik cenderung sederhana, mungkin karena dia tidak pernah mau
melepaskan ingatan akan masa lalunya yang juga tidak berada di “area WAHH..”
Dan dia juga seorang pejabat penyelenggara negara yang menjadi media darling, mungkin
karena perilakunya diatas atau karena keramahannya atau prestasi
sebelumnya atau karena memang berasal dari kalangan media?
Sebetulnya banyak orang di luar sana - termasuk saya pribadi (tidak ingin menyebut masyarakat/rakyat-pen) memiliki harapan yang baik terhadap Menteri yang satu ini.
Dahlan, sepertinya punya potensi yang memadai dari segi mental dan jiwa
kepemimpinan dibalik kesederhanaanya. Ketegasan di dalam cengirannya dan punya kejujuran diantara kebusukan Kabinet Merdeka Utara.
Tapi, peristiwa terakhir membuat banyak orang kecewa, terutama penulis.
Kita memang tidak dijanjikan penyelesaian hukum atau apapun perihal
anggota DPR yang - jika terbukti - terlibat pemerasan, karena rekam
jejak permainan politik hampir selalu mengacaukan persoalan hukum jika
itu terkait partai politik. Banyak bukti soal ini, seperti: Hambalang,
Wisma Atlet, Bank Century, dll..
Kita juga terlanjur mendengar bahwa DI akan menyebutkan hampir selusin politisi Senayan, jika Badan Kehormatannya meminta.
Ternyata…
Dahlan Iskan sama saja dengan para pendukung koruptor lainnya…
Beliau hanya menyebut dua orang saja. Jauh dari bayangan dan harapan
sekian banyak orang terutama kalangan media. Itu pun hanya inisial.
Inisial?
Bukankan rakyat (Terutama mereka yang ada di luar Jawa) tidak pernah menghafal lebih dari 10 nama wakilnya di DPR?
Bukankan ini menjadi tebak-tebakan yang tidak penting dan menggelisahkan?
Menggelisahkan, mengingat kritisnya keberlangsungan negeri ini karena perilaku koruptif para pejabat dan pengusaha.
Hanya dua orang dan dua lembar?
Bukankah DI yang menggembar gemborkan soal 10 orang yang melakukan “Kong
X Kong” akan di ungkapkan sendiri olehnya? Lalu mengapa malah melepas
tangan dan membiarkan anggota BK DPR sendiri yang mengungkapkan? Sesuatu
yang tidak mungkin…
Bukankah ini tindakan pengecut dari seorang calon pemimpin “potensial”? Rakyat ingi transparansi. Buka-bukaan…!!!
Keputusan Dahlan Iskan yang terkesan berada dibawah tekanan atau memang
hanya asal ngomong, menjadikan harapan akan pemberantasan korupsi jadi
kekecewaan. Kekecewaan terbesar terutama pada kesan bahwa ternyata
Dahlan hanya seorang “pembual”.
Bagaimana mungkin, kelak jika benar DI menjadi pemimpin utama Merdeka
Utara, akan mampu bekerja sesuai keinginan rakyat banyak, jika soal
penyebutan nama saja dia ‘bugkam’ karena “ditekan”?
Seorang pemimpin yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah yang tetap
mau bicara dan bertindak atas nama kebenaran untuk kepentingan Bangsa
dan Negara sekalipun dalam “ancaman” misalnya.
Seorang pemimpin yang Indepeden, tidak memihak kecuali kebenaran, tanpa
beban - tak tertekan karena benar, akan menuai simpati dan layak untuk
dijadikan orang nomor satu.
Dahlan Iskan, bukan orang itu. Karena ternyata ia lebih memilih untuk
memihak, kepada siapapun itu, baik Presiden dan partainya ataupun
koruptor yang belum tentu masuk penjara.
Kecewa?
Itu pasti, walaupun mungkin DI punya alasan “takut fitnah”. Tapi
bukanlah media yang mengarang cerita soal janji 10 nama kan? DI sendiri.
Maaf pak Dahlan… Pergilah ke Neraka dengan nama-nama yang mungkin coba anda lindungi.
Dan anda harus mulai lagi dari nol untuk memulihkan kepercayaan
sebagian besar orang karena anda bukan lagi calon pemimpin yang penulis
harapkan akan memimpin negeri ini kelak.
Salam Narsis,