Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah menilai,
Presiden SBY tidak memiliki rasa sensitif, karena lebih memilih
bepergian ke Inggris ketimbang mengurusi kasus pelecehan Tenaga Kerja
Indonesia (TKI) di Malaysia.
"Apa rasanya menerima penghargaan
oleh Ratu Elizabeth di saat warganya didiskon abis-abisan oleh negara
lain? SBY tidak punya sensitivitas," kata Anis dalam diskusi soal TKI di
Gedung DPR, Jakarta, Kamis (1/11/2012).
Menurutnya, sudah lima
hari Migrant Care menemukan iklan di Malaysia yang sangat melecehkan TKI
“Indonesian maid now on sale, 40%”, di kawasan Chow Kit Kuala Lumpur,
Malaysia pada Minggu (28/10/2012).
Namun, belum ada perkembangan yang berarti dari langkah dua negara untuk mengusut tuntas iklan tersebut.
"KBRI
Kuala Lumpur sudah cukup puas dan berhenti dengan hanya menemukan
alamat yang ada di iklan, yang ternyata kedai cukur rambut. Sementara,
Pemerintah Malaysia hanya berjanji akan mengusut iklan tersebut, entah
sampai kapan," tutur Anis.
Migrant Care mengecam keras iklan obral
TKI itu, serta mengecam sikap Pemerintah Indonesia yang hanya reaktif,
tapi tidak ada itikad untuk menuntaskan masalah TKI di Malaysia.
"Mendesak
Pemerintah Indonesia segera menginvestigasi mendalam mengenai iklan
obral TKI, serta jaringan-jaringannya yang diduga kuat merupakan bagian
dari sindikat perdagangan orang. Juga mendesak Presiden SBY mengevaluasi
menyeluruh atas kinerja KBRI Kuala Lumpur yang untuk kesekian kalinya
menunjukkan adanya ketidakseriusan dalam melindungi TKI di Malaysia,"
beber Anis.
Ia menambahkan, pihaknya mendesak kedua negara, baik
Indonesia maupun Malaysia, untuk segera berhenti menjadikan TKI sebagai
barang dagangan.