catatan saifudin hidayat

be better

Asap kenalpot yang terasa perih dimata sudah menyingkirkan semua oksigen segar yang seharusnya ku hirup untuk respirasi tubuhku. Udara panas terus saja menusuki kulitku tanpa henti, sekali – kali aku meletakkan buku tebal yang aku pegang ke atas kepalaku, berniat untuk meneduhkan tengkorak kepalaku dari sinar matahari yang menyiksa. Dengan suasana yang seperti ini, akupun mudah untuk merasakan lelah, dengan langkah gontai aku membawa tubuhku menuju kontrakan. Tempat yang aku huni selama tingal di kota ini. Saat ini, aku tinggal disebuah kota yang cukup jauh dengan kota tempat kelahiranku, kota yang pernah menjadi tempat tinggalkuu sekaligus tempat dimana kedua orang tuaku berada sekarang.
                Aku sudah tinggal dikota ini selama 2 tahun lebih, aku tinggal disini untuk melanjutkan sekolahku, sekolah tingkat sarjana. Aku sangat bersyukur kepada Yang Maha Kuasa, karena telah sudi mengizinkan hambanya ini untuk mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri.
      Sudah hampir 20 menit aku berjalan, dan akhirnya tempat yang menjadi tujuankupun dapat terlihat dengan jelas. Sebuah bedengan kecil berwarna biru langit yang di teras depannya terdapat sebuah kursi kayu kecil yang biasa menjadi tempat pantatku mendarat diwaktu sore hari. Pada saat tangan kurusku sedang berusaha membuka kunci pintu kontrakan ku tersebut, tiba – tiba telingaku dengan tajam menangkap suara seorang laki – laki yang aku yakin 100 persen aku mengenal suara itu. “baru pulang kau Surya?”, dengan sedikit kaget aku menoleh ke arah suara itu berasal dengan kedua bola mataku yang kecoklatan yang berusaha untuk menyelidiki. Dan benar saja, itu Deni, anak kontrakan yang tinggal disebelah tempatku. Kami satu nasib, sama – sama anak rantauan, hanya saja yang membedakan antara aku dengan Deni adalah umur Deni yang 2 tahun lebih tua dibandingkan dengan ku, dan juga wajah deni lebih tampan serta sifat deni sudah sangat dewasa. Beda dengan ku yang kadang – kadang masih suka menangis. Deni sering memanggilku anak cengeng, tapi aku tidak pernah marah, ya karena aku tahu, dia pasti hanya bercanda.
       Tanpa harus memikirkan dan merangkai kalimat yang bagus dan rapi, aku langsung merespon pertanyaan deni. “iya bang, aku baru pulang. tadi di kampus ada mata kuliah tambahan”. aku yakin suaraku saat ini pasti terdengar loyo oleh deni, dan saat ini aku sangat berharap semoga saja dia tidak menginginkan aku untuk mengobrol dengannya. menemaninya duduk dan melihat jemari tangannya yang besar memetik dawai – dawai gitar yang sedang duduk manis di pangkuannya. “ya sudah, mandi dulu sana, habis itu makan, supaya nggak loyo kayak gitu”. “iya bang”. beberapa detik kemudian, tanganku berhasil membuka Gembok yang menahan pintu kontrakanku, aku langsung masuk kedalam, berharap bisa segera membasahi tenggorokanku dengan segelas air segar. aku sudah seperti orang yang yang tersesat di gurun sahara selama 3 hari dan tanpa bekal, benar – benar menyiksa.
           Sore dan Malampun berlalu dengan begitu cepat. Dihari berikutnya, pukul 09.30 pagi, aku sudah siap untuk berangkat ke kampus, sekali lagi aku memaksa kakiku untuk melewati jalan kemarin yang aku gunakan. Diperjalanan, saat sedang asik bernyanyi-nyanyi kecil, tiba – tiba langkah kakiku dihentikan oleh seorang wanita. “Assalamualaikum, maaf mas, boleh nanya?” suara lembut itu dengan jelas bisa diterima oleh indra pendengaranku. langkah kakiku benar – benar telah terhenti, dan aku berusaha merespon apa yang sedang terjadi “oh, Waalaikumsalam” seraya membalas salam, matakupun berusaha melirik ke arah si wanita, dan betapa terkejutnya aku, aku sudah seperti berada di surga yang paling tinggi dan dan bertemu dengan seorang bidadari yang cantiknya bukan kepalang. berdiri di hadapanku seorang wanita gemulai yang sangat cantik, rambutnya di sembunyikan dibalik jilbab berwarna hijau rumput, dengan baju muslim modern yang satu warna dengan jilbab yang sedang  Ia kenakan. dengan senyum merona dan suaranya yang lembut, dia kembali merangkai kalimat yang ditujukannya kepadaku “maaf mas, saya mau Tanya, di sekitar sini ada kontrakan yang namanya pondokan bersama nggak mas?” dengan cepat, seolah ingin menunjukkan kalau aku dari tadi memang memperhatikan dia, aku menjawab “oh, iya mbak, pondokan bersama ya, dari sini nih tinggal lurus aja, nah di sana” sekarang jari telunjukku berusaha menunjuk sebuah pagar biru kecil yang berdiri kokoh di pinggi jalan. “rumahan yang pagar biru itu, kelihatan kan mbak?”. “iya mas, terima kasih banyak mas, Wassalamualaikum”. dengan ukiran senyum manis diwajahnya, Ia pun berjalan ke arah rumah yang tadi ditunjuk oleh jari tanganku.
           Disepanjang jalan menuju kampus, pikiranku selalu diusik oleh bayangan wanita yang menghadangku beberapa menit yang lalu. Aku penasaran dengan semuanya, siapakah namanya? Dari mana asalnya? Apa yang Dia lakukan di pondokan bersama, apakah dia akan tinggal di sana? Semoga saja dilain waktu aku bisa bertemu dengannya lagi, Pekikku dalam hati. Pukul 10.15, aku sudah berada di dalam kelas. Aku mencoba mengikuti pelajaran sebisaku, tapi apa yang terjadi, lagi – lagi otakku diganggu oleh bayangan wanita itu. Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi pada pikiranku? Jangan jadikan Mahram ku tersebut sebagai penghalang untuk aku mencari ilmu Ya Allah, bisikku dalam hati.
            Sore hari, setelah melewati peristiwa tadi siang yang membuat hatiku penasaran bercampur bahagia, pukul 17.45, lantunan ayat – ayat Al-qur’an sudah terdengar di telingaku, hari ini aku berniat untuk melaksanakan shalat di masjid. Siapa tahun si ‘Dia’ mungkin juga akan shalat di sana. Karena aku sudah tahu, tadi di kampus, aku mencoba bertanya kepada Sella. Teman wanita ku yang tinggal di pondokan bersama, katanya wanita yang aku temui tadi siang memang akan tinggal di sana, di pondokan biru. Dan sella juga sudah tahu siapa nama wanita yang aku yakin dia adalah wanita baik – baik dan shalehah. Namanya Nuryanti, nama yang indah. gumamku.
           Setelah sampai di masjid, aku mencoba untuk melirik wilayah shalat perempuan, sudah ada sekitar 17 jamaah wanita yang duduk di sana, termasuk Sella. Tapi sudah hamper 2 menit bola mataku menjelajahi ruangan masjid, tetap saja aku tidak dapat menemukan sosok Nuryanti, sosok bidadari yang pernah berjumpa dengan ku beberapa jam yang lalu. Ya tentu saja, alasanku dating ke masjid ini bukan semata – mata untuk melihat dan bertemu wanita itu. Tetapi untuk melaksanakan shalat  berjamaah, salah satu tugasku sebagai hamba Allah swt. Pukul 19.00, waktu shalat masjidpun berakhir, aku segera keluar dari masjid berniat untuk pulang ke tempat kediamanku. Rasa penasaran, kesal dan betebercampur aduk di dalam otak ku. Kenapa Dia bias tidak datang dan dan melaksanakan shalat berjamaah di masjid, sedangkan pondokan bersama berada tepat di seberang jalan masjid, Sella saja bias datang, apakah dia masih canggung, dan memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri di tempat ini?
               Pada hari berikutnya dan berikutnya, aku masih berjuang dengan strategiku, aku masih ingin melihat wujudnya yang anggun dan bertemu dengannya, ingin aku memperkenalkan diri dan berniat bias dekat dengannya. Tapi, itu semua sia – sia saja. Sampai pada suatu malam, tepat setelah selesai tadarusan di masjid, sekitar pukul 23.30, aku keluar dari masjid dan dari suatu tempat, terdengar suara jeritan – jeritan keras, dan setelah semua panca indra ku menyelidiki, aku menemukan tempat jeritan itu berasal. Telinga dan mataku tidak dapat menolak dari apa yang sedang aku saksikan saat itu. Pondokan bersama sedang kacau, Ibu kos dan juga semua wanita yang tinggal di sana nampak berhamburan dan kelihatan sangat marah bercampur panic. Rasa penasarankupun terpacu, aku ikut panic. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Tanpa sepengetahuan otakku, tubuhku sekarang sudah berada di depan gerbang pondokan bersama, aku mencoba mencari sesuatu yang ganjil, tetapi hasilnya nihil. Yang dapat terdengar hanyalah suara pekikan dari para wanita. “Dasar perempuan biadab, apa yang ada dalam pikiranmu? Kelakuanmu seperti seekor binatang, Biadab” terdengar seperti Guntur yang tidak lama lagi akan memunculkan badai, lalu kepada siapa kalimat – kalimat itu di jujukan?apa yang menjadi penyebab semua kekacauan ini? Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera mencari Sella, bola mataku menelusuri setiap sudut di pondokan bersama, dan aku menemukannya, aku melihat sella sedang berdiri lesu di samping dinding luar kamar, dengan wajahnya yang pucat aku yakin pasti ada masalah besar yang sedang terjadi di tempat ini. “Sella, apa yang sedang terjadi di tempat ini? Apa ada kebakaran?” dengan gigi yang bergetar Ia menjawab “Nuryanti mas, Nuryanti”. Aku sedikit kesulitan untuk mendengar apa yang sedang Sella ungkapkan, tapi aku dapat menganalisanya, Ia menyebut nama Nuryanti, ada apa dengan Nuryanti, wanita yang aku kagumi selama beberapa hari ini, apa Dia yang menyebabkan semua kekacauan ini, lalu apa yang telah dia lakukan? “ apa maksudmu Sella, ada apa dengan Nuryanti? Apa dia pingsan di dalam? Apakah dia terkena penyakit yang menular? Aku harus melihatnya!!” tanpa memikirkan hal yang lain lagi, aku aku mencoba untuk melangkahkan kakiku masuk kedalam.
           Tetapi, baru satu langkah kakiku bekerja, tanganku sudah ditahan oleh sella, otomatis semua organ gerak tubuhku ikut terhenti, aku menolehkan wajajahku ke arah sella dengan tatapan cemas, kenapa dia melakukannya, kenapa dia menghentikan langkah kakiku? “apa yang kamu lakukan Sella? Aku ingin masuk, aku ingin membantu Nur” denga wajah marah, sella membalas tatapanku. Hingga untuk beberapa detik mata kami saling beradu. “sudahlah Mas, Sella tahu kalau mas menyukai wanita itu, tapi mas harus tahu, wanita itu bukalah wanita baik – baik. Mas mau tahu kan kenapa wanita yang beerpenampilan shalehah seperti Nur tidak pernah terlihat shalat di masjid walaupun pondokan ini dengan masjid hanya berseberangan jalan, itu karena saat orang – orang sedang melaksanakan shalat maghrib, Nur pergi keluar mas, penampilan nur saat keluar juga berbeda, dia menggunakan jilbabnya hanya untuk siang hari. Dia ingin menyembunyikan identitas yang sebenarnya, dia selalu pulang jam 11 sampai 12 malam, terkadang bias sampai jam 3 pagi. Kami yang tinggal di sini memandang Nur sebagai wanita panggilan mas, maaf kalau omongan Sella lancing mas, tapi Nur malam ini sudah melakukan hubungan seks di tempat ini, bersama Pria yang selalu menjemput dan mengantarnya pulang pergi dalam beberapa hari belakngan ini. Nama aslinya juga bukan Nuryanti, tapi Sindi Margareta”. Seperti tersambar petir sebanyak ribuan kali, tubuhku bergetar hebat, keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuhku, nafasku seperti terhenti dipangkal tenggorokanku, aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar saat itu. Kata – kata yang keluar dari mulut Sella bagaikan pisau tajam yang menyayat – nyayat hati ku, dia telah menghancurkan semua pikiran positifku terhadap Nur. Tetapi melihat kekacauan dan kepanikan semua penghuni tempat ini, aku tidak bias untuk tidak mempercayainya. Hingga selang beberapa waktu kemudian, terdengar jeritan wanita dari dalam pondokan, keluar beberapa orang laki – laki yang berumur sekitar 40 tahun-an, dengan memasang mimik wajah murka, di depan mereka di bondong 2 orang hamba Allah yang tergolong masih sangat muda, kira – kira seumuran dengan kami. Seorang laki – laki berkulit putih dengan rambut pirang dan hanya memakai sebuah Boxer yang menempel di pinggulnya, dan yang satu lagi adalah seorang kaum hawa yang sangat cantik, dan saat itu juga mataku seperti ingin melompat dari tempatnya, saat aku sadar bahwa wanita itu adalah Nuryanti. “Astaghfirullahaladzim, Sella apakah benar apa yang sedang mas lihat saat ini? Apakah wanita itu . . . ” sebelum aku menyelesaikan kalimatku, sella sudah meresponnya terlebih dahulu, “Iya mas, wanita itu Nuryanti, dia menggunakan jilbab selama ini hanya untuk menyembunyikan belangnya semata. Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya, tetapi begitulah kenyataannya mas”.
              Semua orang yang berada di tempat itu terlihat sangat marah, jika saja tidak ada kaum laki – laki yang mengatasi dengan benar masalah ini, aku yakin mereka tidak segan – segan untuk mencelakai Nur dan laki – laki itu. Aku masih tidak bisa mencerna dengan baik apa yang sebenarnya sedang terjadi ini, kenapa masih ada saja orang – orang yang seperti mereka di dunia ini? Bukankah sekarang zaman sudah sangat maju, pesantren, sekolahan, perguruan tinggi dan tempat – tempat menimba ilmu sudah berdiri di setiap penjuru di tanah bumi ini. Tapi kenapa mereka masih saja tersesat? Tersesat di bumi yang terang ini.

          Rabu, Pukul 07.30, dihari berikutnya, aku sudah mandi dan sudah berpakaian rapi. Aku berniat berangkat ke kampus untuk yang kesekian kalinya. Memori otakku masih sangat jelas teringat akan kejadian semalam, saat laki – laki itu bersama dengan Nur dibawa kerumah ketua R.T. untuk diberikan sanksi atas perbuatan bejat mereka. Aku mengambil tasku dan memakai sepatu kulit yang telah menemani langkahku selama hampir setahun ini. Aku tidak ingin memikirkan wanita yang namanya Nuryanti itu lagi, aku tidak ingin tahu apa penyebabnya, kenapa masih ada saja orang yang mempunyai pola piker dan sifat seperti itu. tapi yang terpenting adalah bagaimana caraku supaya aku tidak ikut terjerumus dalam dunia mereka. Semua perlengkapanku sudah siap, dan dengan mengucapkan lafadz basmalah, aku keluar dari kontrakan ku, melangkahkan kakiku menuju kampus. Semoga saja Allah swt. selalu melindungi hambanya yang selalu pada jalan kebenara,. Ucapku dalam Hati.