Asap
kenalpot yang terasa perih dimata sudah menyingkirkan semua oksigen
segar yang seharusnya ku hirup untuk respirasi tubuhku. Udara panas
terus saja menusuki kulitku tanpa henti, sekali – kali aku meletakkan
buku tebal yang aku pegang ke atas kepalaku, berniat untuk meneduhkan
tengkorak kepalaku dari sinar matahari yang menyiksa. Dengan suasana
yang seperti ini, akupun mudah untuk merasakan lelah, dengan langkah
gontai aku membawa tubuhku menuju kontrakan. Tempat yang aku huni selama
tingal di kota ini. Saat ini, aku tinggal disebuah kota yang cukup jauh
dengan kota tempat kelahiranku, kota yang pernah menjadi tempat
tinggalkuu sekaligus tempat dimana kedua orang tuaku berada sekarang.
Aku sudah tinggal dikota ini selama 2 tahun lebih, aku tinggal disini
untuk melanjutkan sekolahku, sekolah tingkat sarjana. Aku sangat
bersyukur kepada Yang Maha Kuasa, karena telah sudi mengizinkan hambanya
ini untuk mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri.
Sudah hampir 20 menit aku berjalan, dan akhirnya tempat yang menjadi
tujuankupun dapat terlihat dengan jelas. Sebuah bedengan kecil berwarna
biru langit yang di teras depannya terdapat sebuah kursi kayu kecil yang
biasa menjadi tempat pantatku mendarat diwaktu sore hari. Pada saat
tangan kurusku sedang berusaha membuka kunci pintu kontrakan ku
tersebut, tiba – tiba telingaku dengan tajam menangkap suara seorang
laki – laki yang aku yakin 100 persen aku mengenal suara itu. “baru
pulang kau Surya?”, dengan sedikit kaget aku menoleh ke arah suara itu
berasal dengan kedua bola mataku yang kecoklatan yang berusaha untuk
menyelidiki. Dan benar saja, itu Deni, anak kontrakan yang tinggal
disebelah tempatku. Kami satu nasib, sama – sama anak rantauan, hanya
saja yang membedakan antara aku dengan Deni adalah umur Deni yang 2
tahun lebih tua dibandingkan dengan ku, dan juga wajah deni lebih tampan
serta sifat deni sudah sangat dewasa. Beda dengan ku yang kadang –
kadang masih suka menangis. Deni sering memanggilku anak cengeng, tapi
aku tidak pernah marah, ya karena aku tahu, dia pasti hanya bercanda.
Tanpa harus memikirkan dan merangkai kalimat yang bagus dan rapi, aku
langsung merespon pertanyaan deni. “iya bang, aku baru pulang. tadi di
kampus ada mata kuliah tambahan”. aku yakin suaraku saat ini pasti
terdengar loyo oleh deni, dan saat ini aku sangat berharap semoga saja
dia tidak menginginkan aku untuk mengobrol dengannya. menemaninya duduk
dan melihat jemari tangannya yang besar memetik dawai – dawai gitar yang
sedang duduk manis di pangkuannya. “ya sudah, mandi dulu sana, habis
itu makan, supaya nggak loyo kayak gitu”. “iya bang”. beberapa detik
kemudian, tanganku berhasil membuka Gembok yang menahan pintu
kontrakanku, aku langsung masuk kedalam, berharap bisa segera membasahi
tenggorokanku dengan segelas air segar. aku sudah seperti orang yang
yang tersesat di gurun sahara selama 3 hari dan tanpa bekal, benar –
benar menyiksa. Sore dan Malampun berlalu dengan begitu
cepat. Dihari berikutnya, pukul 09.30 pagi, aku sudah siap untuk
berangkat ke kampus, sekali lagi aku memaksa kakiku untuk melewati jalan
kemarin yang aku gunakan. Diperjalanan, saat sedang asik
bernyanyi-nyanyi kecil, tiba – tiba langkah kakiku dihentikan oleh
seorang wanita. “Assalamualaikum, maaf mas, boleh nanya?” suara lembut
itu dengan jelas bisa diterima oleh indra pendengaranku. langkah kakiku
benar – benar telah terhenti, dan aku berusaha merespon apa yang sedang
terjadi “oh, Waalaikumsalam” seraya membalas salam, matakupun berusaha
melirik ke arah si wanita, dan betapa terkejutnya aku, aku sudah seperti
berada di surga yang paling tinggi dan dan bertemu dengan seorang
bidadari yang cantiknya bukan kepalang. berdiri di hadapanku seorang
wanita gemulai yang sangat cantik, rambutnya di sembunyikan dibalik
jilbab berwarna hijau rumput, dengan baju muslim modern yang satu warna
dengan jilbab yang sedang Ia kenakan. dengan senyum merona dan suaranya
yang lembut, dia kembali merangkai kalimat yang ditujukannya kepadaku
“maaf mas, saya mau Tanya, di sekitar sini ada kontrakan yang namanya
pondokan bersama nggak mas?” dengan cepat, seolah ingin menunjukkan
kalau aku dari tadi memang memperhatikan dia, aku menjawab “oh, iya
mbak, pondokan bersama ya, dari sini nih tinggal lurus aja, nah di sana”
sekarang jari telunjukku berusaha menunjuk sebuah pagar biru kecil yang
berdiri kokoh di pinggi jalan. “rumahan yang pagar biru itu, kelihatan
kan mbak?”. “iya mas, terima kasih banyak mas, Wassalamualaikum”. dengan
ukiran senyum manis diwajahnya, Ia pun berjalan ke arah rumah yang tadi
ditunjuk oleh jari tanganku. Disepanjang jalan menuju
kampus, pikiranku selalu diusik oleh bayangan wanita yang menghadangku
beberapa menit yang lalu. Aku penasaran dengan semuanya, siapakah
namanya? Dari mana asalnya? Apa yang Dia lakukan di pondokan bersama,
apakah dia akan tinggal di sana? Semoga saja dilain waktu aku bisa
bertemu dengannya lagi, Pekikku dalam hati. Pukul 10.15, aku sudah
berada di dalam kelas. Aku mencoba mengikuti pelajaran sebisaku, tapi
apa yang terjadi, lagi – lagi otakku diganggu oleh bayangan wanita itu.
Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi pada pikiranku? Jangan jadikan Mahram
ku tersebut sebagai penghalang untuk aku mencari ilmu Ya Allah, bisikku
dalam hati. Sore hari, setelah melewati peristiwa tadi
siang yang membuat hatiku penasaran bercampur bahagia, pukul 17.45,
lantunan ayat – ayat Al-qur’an sudah terdengar di telingaku, hari ini
aku berniat untuk melaksanakan shalat di masjid. Siapa tahun si ‘Dia’
mungkin juga akan shalat di sana. Karena aku sudah tahu, tadi di kampus,
aku mencoba bertanya kepada Sella. Teman wanita ku yang tinggal di
pondokan bersama, katanya wanita yang aku temui tadi siang memang akan
tinggal di sana, di pondokan biru. Dan sella juga sudah tahu siapa nama
wanita yang aku yakin dia adalah wanita baik – baik dan shalehah.
Namanya Nuryanti, nama yang indah. gumamku. Setelah sampai
di masjid, aku mencoba untuk melirik wilayah shalat perempuan, sudah
ada sekitar 17 jamaah wanita yang duduk di sana, termasuk Sella. Tapi
sudah hamper 2 menit bola mataku menjelajahi ruangan masjid, tetap saja
aku tidak dapat menemukan sosok Nuryanti, sosok bidadari yang pernah
berjumpa dengan ku beberapa jam yang lalu. Ya tentu saja, alasanku
dating ke masjid ini bukan semata – mata untuk melihat dan bertemu
wanita itu. Tetapi untuk melaksanakan shalat berjamaah, salah satu
tugasku sebagai hamba Allah swt. Pukul 19.00, waktu shalat masjidpun
berakhir, aku segera keluar dari masjid berniat untuk pulang ke tempat
kediamanku. Rasa penasaran, kesal dan betebercampur aduk di dalam otak
ku. Kenapa Dia bias tidak datang dan dan melaksanakan shalat berjamaah
di masjid, sedangkan pondokan bersama berada tepat di seberang jalan
masjid, Sella saja bias datang, apakah dia masih canggung, dan
memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri di tempat ini?
Pada hari berikutnya dan berikutnya, aku masih berjuang dengan
strategiku, aku masih ingin melihat wujudnya yang anggun dan bertemu
dengannya, ingin aku memperkenalkan diri dan berniat bias dekat
dengannya. Tapi, itu semua sia – sia saja. Sampai pada suatu malam,
tepat setelah selesai tadarusan di masjid, sekitar pukul 23.30, aku
keluar dari masjid dan dari suatu tempat, terdengar suara jeritan –
jeritan keras, dan setelah semua panca indra ku menyelidiki, aku
menemukan tempat jeritan itu berasal. Telinga dan mataku tidak dapat
menolak dari apa yang sedang aku saksikan saat itu. Pondokan bersama
sedang kacau, Ibu kos dan juga semua wanita yang tinggal di sana nampak
berhamburan dan kelihatan sangat marah bercampur panic. Rasa
penasarankupun terpacu, aku ikut panic. Apa yang sebenarnya sedang
terjadi? Tanpa sepengetahuan otakku, tubuhku sekarang sudah berada di
depan gerbang pondokan bersama, aku mencoba mencari sesuatu yang ganjil,
tetapi hasilnya nihil. Yang dapat terdengar hanyalah suara pekikan dari
para wanita. “Dasar perempuan biadab, apa yang ada dalam pikiranmu?
Kelakuanmu seperti seekor binatang, Biadab” terdengar seperti Guntur
yang tidak lama lagi akan memunculkan badai, lalu kepada siapa kalimat –
kalimat itu di jujukan?apa yang menjadi penyebab semua kekacauan ini?
Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera mencari Sella, bola mataku
menelusuri setiap sudut di pondokan bersama, dan aku menemukannya, aku
melihat sella sedang berdiri lesu di samping dinding luar kamar, dengan
wajahnya yang pucat aku yakin pasti ada masalah besar yang sedang
terjadi di tempat ini. “Sella, apa yang sedang terjadi di tempat ini?
Apa ada kebakaran?” dengan gigi yang bergetar Ia menjawab “Nuryanti mas,
Nuryanti”. Aku sedikit kesulitan untuk mendengar apa yang sedang Sella
ungkapkan, tapi aku dapat menganalisanya, Ia menyebut nama Nuryanti, ada
apa dengan Nuryanti, wanita yang aku kagumi selama beberapa hari ini,
apa Dia yang menyebabkan semua kekacauan ini, lalu apa yang telah dia
lakukan? “ apa maksudmu Sella, ada apa dengan Nuryanti? Apa dia pingsan
di dalam? Apakah dia terkena penyakit yang menular? Aku harus
melihatnya!!” tanpa memikirkan hal yang lain lagi, aku aku mencoba untuk
melangkahkan kakiku masuk kedalam. Tetapi, baru satu
langkah kakiku bekerja, tanganku sudah ditahan oleh sella, otomatis
semua organ gerak tubuhku ikut terhenti, aku menolehkan wajajahku ke
arah sella dengan tatapan cemas, kenapa dia melakukannya, kenapa dia
menghentikan langkah kakiku? “apa yang kamu lakukan Sella? Aku ingin
masuk, aku ingin membantu Nur” denga wajah marah, sella membalas
tatapanku. Hingga untuk beberapa detik mata kami saling beradu.
“sudahlah Mas, Sella tahu kalau mas menyukai wanita itu, tapi mas harus
tahu, wanita itu bukalah wanita baik – baik. Mas mau tahu kan kenapa
wanita yang beerpenampilan shalehah seperti Nur tidak pernah terlihat
shalat di masjid walaupun pondokan ini dengan masjid hanya berseberangan
jalan, itu karena saat orang – orang sedang melaksanakan shalat
maghrib, Nur pergi keluar mas, penampilan nur saat keluar juga berbeda,
dia menggunakan jilbabnya hanya untuk siang hari. Dia ingin
menyembunyikan identitas yang sebenarnya, dia selalu pulang jam 11
sampai 12 malam, terkadang bias sampai jam 3 pagi. Kami yang tinggal di
sini memandang Nur sebagai wanita panggilan mas, maaf kalau omongan
Sella lancing mas, tapi Nur malam ini sudah melakukan hubungan seks di
tempat ini, bersama Pria yang selalu menjemput dan mengantarnya pulang
pergi dalam beberapa hari belakngan ini. Nama aslinya juga bukan
Nuryanti, tapi Sindi Margareta”. Seperti tersambar petir sebanyak ribuan
kali, tubuhku bergetar hebat, keringat dingin mengalir deras di sekujur
tubuhku, nafasku seperti terhenti dipangkal tenggorokanku, aku tidak
percaya dengan apa yang aku dengar saat itu. Kata – kata yang keluar
dari mulut Sella bagaikan pisau tajam yang menyayat – nyayat hati ku,
dia telah menghancurkan semua pikiran positifku terhadap Nur. Tetapi
melihat kekacauan dan kepanikan semua penghuni tempat ini, aku tidak
bias untuk tidak mempercayainya. Hingga selang beberapa waktu kemudian,
terdengar jeritan wanita dari dalam pondokan, keluar beberapa orang laki
– laki yang berumur sekitar 40 tahun-an, dengan memasang mimik wajah
murka, di depan mereka di bondong 2 orang hamba Allah yang tergolong
masih sangat muda, kira – kira seumuran dengan kami. Seorang laki – laki
berkulit putih dengan rambut pirang dan hanya memakai sebuah Boxer yang
menempel di pinggulnya, dan yang satu lagi adalah seorang kaum hawa
yang sangat cantik, dan saat itu juga mataku seperti ingin melompat dari
tempatnya, saat aku sadar bahwa wanita itu adalah Nuryanti.
“Astaghfirullahaladzim, Sella apakah benar apa yang sedang mas lihat
saat ini? Apakah wanita itu . . . ” sebelum aku menyelesaikan kalimatku,
sella sudah meresponnya terlebih dahulu, “Iya mas, wanita itu Nuryanti,
dia menggunakan jilbab selama ini hanya untuk menyembunyikan belangnya
semata. Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya,
tetapi begitulah kenyataannya mas”. Semua orang yang
berada di tempat itu terlihat sangat marah, jika saja tidak ada kaum
laki – laki yang mengatasi dengan benar masalah ini, aku yakin mereka
tidak segan – segan untuk mencelakai Nur dan laki – laki itu. Aku masih
tidak bisa mencerna dengan baik apa yang sebenarnya sedang terjadi ini,
kenapa masih ada saja orang – orang yang seperti mereka di dunia ini?
Bukankah sekarang zaman sudah sangat maju, pesantren, sekolahan,
perguruan tinggi dan tempat – tempat menimba ilmu sudah berdiri di
setiap penjuru di tanah bumi ini. Tapi kenapa mereka masih saja
tersesat? Tersesat di bumi yang terang ini.
Rabu, Pukul 07.30, dihari berikutnya, aku sudah mandi dan
sudah berpakaian rapi. Aku berniat berangkat ke kampus untuk yang
kesekian kalinya. Memori otakku masih sangat jelas teringat akan
kejadian semalam, saat laki – laki itu bersama dengan Nur dibawa kerumah
ketua R.T. untuk diberikan sanksi atas perbuatan bejat mereka. Aku
mengambil tasku dan memakai sepatu kulit yang telah menemani langkahku
selama hampir setahun ini. Aku tidak ingin memikirkan wanita yang
namanya Nuryanti itu lagi, aku tidak ingin tahu apa penyebabnya, kenapa
masih ada saja orang yang mempunyai pola piker dan sifat seperti itu.
tapi yang terpenting adalah bagaimana caraku supaya aku tidak ikut
terjerumus dalam dunia mereka. Semua perlengkapanku sudah siap, dan
dengan mengucapkan lafadz basmalah, aku keluar dari kontrakan ku,
melangkahkan kakiku menuju kampus. Semoga saja Allah swt. selalu
melindungi hambanya yang selalu pada jalan kebenara,. Ucapku dalam Hati.