“Pilih dengan gaya saya, atau tidak usah pilih saya,” kata Nanan dalam acara seminar dengan Komisi Kejaksaan di Hotel Atlet Century, Jakarta, Kamis 11 Oktober 2012.
Gaya yang dimaksud Nanan itu adalah melawan siapapun yang melawan hukum dan undang-undang, termasuk senadainya hal itu dilakukan oleh pimpinan atau partai pengusungnya.
“Selama 32 tahun menjadi polisi, saya sering melawan pimpinan saya. Saya melawan Kapolres, Kapolwil, dan Kapolda, jika memang saya anggap mereka tidak mematuhi undang-undang,” ujar Nanan.
Menurut Nanan, ia bersikap keras seperti itu karena sistem, kepemimpinan, dan anggota yang tidak benar dapat memicu maraknya praktik korupsi. Oleh karena itu demi memperjuangkan hal yang benar, Nanan bersikukuh mengubah sistem yang tidak benar meski berarti harus melawan atasannya sendiri.
“Termasuk untuk jabatan gubernur, itulah kesempatan kita untuk melawan dan mengubah sistem yang sekarang. Kalau saya ditolak melakukan itu, ya saya tak bisa,” kata Nanan.
“Saya nggak peduli meski nggak laku-laku (diusung jadi cagub). Kalau dipakai di Pilkada syukur, nggak dipakai juga syukur,” kata alumni terbaik Akademi Kepolisian tahun 1978 itu.
Sampai saat ini pencalonan Nanan sebagai gubernur Jawa Barat masih belum jelas. PDIP sebagai partai yang disebut-sebut hendak mengusungnya juga belum memberi kepastian apakah jadi menetapkan Nanan sebagai cagub Jawa Barat atau tidak.
